Sabtu, 30 Desember 2017

Izinkan aku egois

    Aku pernah meminta izin pada Tuhan, saat aku terpuruk dan terjatuh dulu. "Tuhan, Izinkan aku egois sekali lagi". Tapi ternyata Tuhan tak mengizinkanku. Tak ada kesempatan kala itu. 
   Lalu hari ini. 81 hari selepas kau kubiarkan pergi, kau kembali. Menawarkan tawaran yang sebenarnya belum pasti. Membangkitkan keinginan yang dulu tak dikabulkan oleh sang maha pemberi. 
    Dan ya, rasa ini benar benar telah kembali. Dan maaf harus kuulangi, izinkan aku egois sekali lagi. Meski entah bisa disebut egois atau tidak, karna aku mencintaimu tanpa peduli. 
   Tentang semua nasihat yang kau beri, rasa takut menyakiti lagi, omongan orang lain, hingga bahkan perasaanmu sendiri. Rasa ini besar, hingga menjadikan segalanya sederhana. Sesederhana ungkapan cinta, dua kalimat penuh makna atau mungkin ternyata lima. Aku mencintaimu dengan begitu benarnya.

Sederhana

19/3/17

    Karna ternyata, rasa itu kembali dengan begitu besar sehingga menjadikan kisah ini sederhana, tak muluk muluk atau meminta lebih.
    Sesederhana aku yang begitu mengerti kesalahanku, hingga tak sedikitpun niat menghakimimu. Sesederhana aku yang begitu merasa cukup hanya dengan kembalinya kamu, meski tak ada kepastian akankah kita kembali berlabuh.
    Sesederhana senyum atau tatap matamu dari seberang sana, hingga mungkin saat kita berpapasan. Sederhana, seperti saat aku merasa cukup hanya dengan obrolan pendek kita atau cukup aku tau kau berada dimana.
    Sederhana pula, sesederhana aku yang selalau mencoba baik baik. Dengan wanita manapun kau bertegur sapa atau bergombal ria, asalkan aku dapat selalu menggenggam tanganmu, ataupun memelukmu. Sederhana, sesederhana aku tau jelas bagaimana perasaanku. Tak peduli apa dan dimana, siapa dan berkata apa, perasaanku satu, aku menyayangimu.

Selepas Kau Kubiarkan Kembali

9/3/17

      Sekarang mungkin aku akan selalu menjadi rumah sebagai tempatmu kembali pulang. Tapi tidak dengan cerita cerita tentang para wanitamu. Karna itu hanya akan mengajarkanku untuk membenci dan kini aku sudah terlalu mengerti. 
      Kelak juga mungkin akan kusampaikan, betapa aku malam itu ingin membisikkan padamu. Bahwa, ternyata memang cuma kamu. Tapi ketakutanku kehilanganmu. Menjadikan aku menyimpan semua itu sendiri, demi kamu tetap disini. Kali ini, tolong. Biarkan aku menunggumu, beberapa saat lagi.

64 Hari Selepas Kau Kubiarkan Pergi

3/3/17

Sebulan sejak kamu bersamanya namun tiba tiba kamu akhiri, seminggu sejak aku memutuskan ikhlas.

Saat ikhlas datang,
bersamaan dengan dia kembali,
apa kali ini akan pergi lagi ?
jika ia, lalu untuk apa ?
dan kembali kepada hal ini, 
masihkah ini bernama cinta ?
tanpa ada harapan yang menyertai?

Jumat, 29 Desember 2017

53 Hari Selepas Kau Kubiarkan Pergi



20/2/17
Puisi ini kubuat saat aku kesal kesalnya, melihat kau dengan kekasihmu setelah aku. Si anak Teater itu..

Berlarilah
Pergi cari baru
Rasakan hal hal baru
Bangunlah dinding tinggi lagi
Sertai kawat berduri
Agar tak lagi kita saling menari 

Tak lagi ku cari didalam kamus ku kata harapan
Terlebih kepadamu
Pergilah
jangan lagi perduli bagaimana aku
Tentang perasaan apa yang masih kumiliki padamu
Tidak,
bukan. Bukan aku tak lagi peduli atau membenci
Hanya bukankah pilihan kita dinding dengan kawat berduri ini ?
aku hanya memperbaiki segala yang kau telah kritisi
menuruti semua permintaanmu untuk berada dibalik dinding ini
sia sia saja jika kau masih mengenang kenangan manis yg sudah jadi luka,
baik untukmu, untukku, untuk kita.

Truslah berjalan jangan menoleh kebelakang
Berbahagialah
Lakukan hal yg biasa kita lakukan
lakukan bersamanya
Lakukan hal hal yang kau suka
lakukan bersamanya
Tak usah susah payah mencoba perasaanku

Namun apabila  kau merasa pergi terlalu jauh
atau terluka diperjalanan
dan membutuhkan tempat untuk kembali
tenang dan kembalilah sebentar
dibalik dinding ini akan selalu ada aku yang tak berubah.
Beristirahatlah padaku dan akan kuobati.
Tp itu juga bukan berarti kita runtuhkan dinding ini
Kita sudah memilih sebuah pagar tinggi
Tak baik lagi untuk saling terlalu jauh mencampuri

Jadi berhentilah mengukir masa lalu di dinding baru ini
Hanya pergi saja,
berhenti menoleh kebelakang.
Didepanmu sdh ada dia
Berbahagialah
pergi lebih jauh lagi.
Bukan aku tak peduli atau membenci..
Kini telah perlahan ku ukir bahagiaku kuharap kau tak lagi perlu mendongengkan masa lalu.

dicintai kamu itu sejuk



dicintai kamu itu sejuk
sesejuk hujan pukul sebelas
waktu dimana cinta berdatangan
saat dirimu pulang kembali kepelukan
setelah berkeringat disiang hari, dan terluka di sorenya

dicintai kamu itu sejuk
sesejuk embun pukul empat pagi
saat kau nyatakan rasa dan sekedar pamit
dari ujung gagang telepon di seberang hati
seiring pagi menyingsing menguping
bagaimana bodoh namun manis pembicaraan kami

Disuatu Akhir Tahun

22 Februari 2017,

Disuatu akhir tahun, di pagi penuh kesibukan.
Tuhan memperkenalkanku dengan seseorang yang ternyata berarti untukku.
Disuatu akhir tahun, di sore hari menjelang petang.
Tuhan memperkenalkanku dengan seseorang yang tak kusangka juga menjadi berarti untukku.

Disuatu akhir tahun pada satu masa,
dengan bodoh aku berkata, menantang Yang Maha Kuasa,
bagaimana bisa seorang insan manusia bisa mencintai dua manusia lainnya ?
begitu kutanya. 

Disuatu akhir tahun, pada suatu waktu,
tanpa jeda Tuhan menjawab pertanyaanku, antara hadiah atau susah.
Tuhan membuatku jatuh cinta, kepada dua pria.

Pada laki laki yang setiap menatap dan bicara padanya membuatku layaknya berkaca dan tersentuh,
yang kucintai dan mencintaiku,
lalu melukaiku dan kulukai.

dan Pada laki laki yang mencintai apa yang aku cinta, tentang para seni yang kukenal selama bertempat di dunia,
dan memperlakukanku semanis putri raja,
mencintaiku dan pada akhirnya kucintai,
yang kulukai lalu melukaiku.

29 Hari Selepas Kau Kubiarkan Pergi

27/1/2017

dear "kau" yang menempati singgasana pemeran utama dalam tulisanku.

              Tenyata jatuh cinta bukan sebuah dosa, pilihannya yang kita ambil yang membuatnya bersalah. aku bernjanji, saat aku baik baik saja nanti. aku akan menuliskanmu sebuah surat atau sesuatu yang manis. Berterima Kasih pada semua yang kau tanamkan dan ajarkan padaku.
Hampir tepat setahun semua cerita aku dan kamu yang tidak lagi bisa kusebut kita dimulai. hampir setahun kurang beberapa bulan pula aku berhenti menulis. dan sekarang mungkin saat yang tepat. biar kulanjutkan, cerita kita. sebagaimana kehidupan yang sebenarnya

Kamis, 13 April 2017

pilihan

        jika aku pernah membahas tentang perjuangan. biarkan kini aku membahas tentang pilihan.
terlalu banyak pilihan bertebaran dijalan. kamu atau kita harus memilih, apa langkah awal untuk masa depanmu ? apa prioritasmu ? apa ini ? dan apa itu ? pilihan juga harus disertai kesadaran pastinya.
       mungkin tentang dia yang kau pikir selalu meragukanmu. tidak, sesungguhnya dia tidak
pernah ragu, ia tau betapa kau mencintainya meskipun kau sering melakukan hal - hal yang ia tidak suka. jadi ada dua pilihan dalam kasus ini. mengaku tau atau mengaku ragu. dan sayangnya ia memilih untuk ragu, karna perasaannya yg tak tentu dimana, dan ia butuh pengalih perhatian dari keadaannya.
      atau mungkin saat kau sadar apa yang kau lakukan itu salah, tapi kau memilih untuk tidak
sadar atau lebih tepatnya terlihat tidak sadar. kesadaranmu kau simpan, dalam lemari yang berkunci.
     mungkin juga tentang hubunganmu. kamu yang tau ia tak pantas untukmu, kamu yang
tau betapa kamu tersiksa bersamanya atau berjuang sendirian. tapi kamu sekali lagi memilih berlagak tidak tau. sekali lagi kamu simpan semua itu dalam lemari berkunci. seakan kamu tak sadar atau bahkan tau.
     begitulah pilihan, sang pedang bermata dua. karna di dunia tidak ada yang sempurna. memilih hal hal aneh itu semata untuk bahagia padahal sebenarnya tau betapa itu semu.

Rabu, 22 Februari 2017

apa

apa dengan bersalah seseorang tidak memiliki rasa?
tidak bisa merasa patah ?
tak dapat menyesal dan merindu ?
apa dengan bersalah seseorang tidak punya hak untuk merasa cinta ?
apa dengan bersalah, orang orang disekitarnya tak turut campur tangan ?
keadaan tak ikut membumbui ?
apa semua terlalu sempurna dan hanya ia yang gila ?
tanyakan pada hati
tanyakan pada sel otak
berhenti menghakimi,

" bukan untuk itu anda hidup, anda adalah pengamat dan penikmat, bukan hakim."- supernova: ksatria, putri, dan bintang jatuh.

Senin, 20 Februari 2017

24 hari selepas kau kubiarkan pergi

22/1/17

aku terlalu tersugesti kamu sempurna
aku terlalu percaya 90 hari bersama bisa membuat kita sudah saling paham
aku terlalu yakin bahwa cuma kamu yang bisa mengerti
aku terlalu yakin pula kita memiliki pemikiran yang sama
aku terlalu takut tidak ada yang mencintaiku sebesar kamu

aku lupa,
aku lupa kamu juga pernah sejahat itu
aku lupa kamu juga pernah membagi hatimu
aku lupa kamu pernah bersedia kulepaskan
aku lupa kamu pernah, atau bahkan mungkin, hingga saat itu masih seegois itu.
aku lupa pada apa yang kuyakini,
bahwa kita ternyata melakukan hal yang sama.

Sabtu, 18 Februari 2017

20 hari selepas kau kubiarkan pergi

18/1/2017

karna sejahat apapun diriku dulu
karna semenyakitkan apapun yang ku lakukan terhadapmu
kamu telah dan selalu berada di singgasana

sejahat apapun kita saling melukai , kita pernah 60 hari berada dalam sesuatu yang nyata,
sejatuh apapun aku dengan dirinya,
kau tetap yang akan utama ku sapa,
kuberi kabar disetiap detiknya,
kau tetap yang kutangisi setiap malamnya,
kau tetap yang ku rindu, yang kan selalu kucari kala tak tampak kehadirannya,

bukan lagi hak dan kewajibanku untuk meyakinkanmu atas ini,
bukan lagi hak dan kewajibanku atas kepercayaanmu pada kata cinta,
karna aku yakin kau pun ragu,
begitu juga aku.
kita adalah dua insan manusia dengan jalan berpikir yang sama,
maka sekali lag, kau pasti mengerti.
karna setiap perih yang kau rasakan juga terasa pada hatiku,
sesakit apapun itu.

setelah ini semua,
selalu terpikir dalam diamku,
apa rahasia Tuhan setelah ini,
kita dipertemukan sebagai dua manusia layaknya berkaca,
kita didekatkan oleh takdir,
seperti kepingan puzzle kita disatukan,
lalu pada sebuah takdir kita dijauhkan kembali,
tapi semuanya tetap sama.
pola berpikir, sifat, selalu saling mengerti,
sudah kuserahkan pada Tuhan akan menjadi seperti apa kita nanti,
kadang aku menerka kau akan menjadi orang yang akan selalu bersamaku,
tapi takdir siapa yang tau, kehendak tuhan kelak akan menjadi seperti apalagi,
entah kelak kita akan benar benar saling memaafkan dan saling melengkapi,
atau hubungan kita tetap sampai disini.

Rabu, 15 Februari 2017

hati dan terlalu

hati manusia kabarnya luas
hati wanita kabarnya sedalam samudra
lalu semakin lama kita semakin tau
bahwa sesungguhnya rasa tak pernah berlalu

namun kita terlalu lama bersembunyi
terlalu banyak menerka
terlalu banyak menunggu
pada akhirnya semua yang terlalu akan menjadi tidak baik

hingga akhirnya kita terlalu berharap dan terlalu kecewa
hingga akhirnya cinta menjadi luka
hingga akhirnya kita saling menyalahkan,
mengabaikan kenyataan yang ada,

hingga akhirnya cerita ini kita tutup dengan kesepakatan.
entah pura pura atau nyata,
demi menjadi manusia yang kembali berlogika
menerima semua yang ada.

Senin, 13 Februari 2017

15 hari selepas kau kubiarkan pergi

14/1/17

karna jika dipikir kembali, dari awal seperti tidak ada jalan untuk kami.
sejak kami memilih untuk bersembunyi, hingga menjadi sembunyi sembunyi.
lalu Tuhan memberi jalan, tapi disertai tawaran yang menggiurkan diawal dan pilihan dibelakangnya.
hingga insting iblis dalam hati tergiur dan lupa, betapa menyakitkannya.
kuambil, lalu kami terpisah lagi.
hingga penyesalan tumbuh dan menyakiti hati.
setiap hari tersampai di mulut, jika saja aku tak begini, mungkin bahagia sudah kami.

tapi aku terlupa,
Tuhan menulis banyak takdir menyertai setiap pilihan yang Ia beri.
jika aku tak tergiur oleh tawaranNya, bisa saja memang semua berbeda,
bisa saja ada masalah lain yang datang,
ada dosa lain yang memisahkan.
bisa saja perkiraanku tentang bahagia yang akan selalu bersama kami itu salah,
siapa yang bisa menduga rahasia Tuhan,

lalu pada suatu sore,
kuputuskan untuk kembali baik baik saja,

berhenti mengasah pedang untuk diri sendiri,
sudah cukup kami saling menyalahkan satu sama lain maupun diri sendiri,
karna bisa saja,
memang bukan sekarang takdir kita,
atau bahkan tak ada takdir kita bisa bersama.

Minggu, 12 Februari 2017

11 hari selepas kau kubiarkan pergi

10/1/2017

Tuhan
ini seperti mimpi,
semuanya terasa baik baik saja disaat aku menutup mata.
aku sedang bersama mereka, rumah baruku, dan berikut juga orang orang tersayangku.
tapi masalah baru saja selesai disini, dan masih begitu menyakitkan.
jadi ternyata tak terlalu nyaman bersama mereka,
masih terlalu sakit.
lalu kucoba menutup mataku,
di pangkuan salah satu sahabatku,
dan rasanya lebih baik,
karna seperti mimpi, tak nyata,
selayaknya apa yang ku harapkan,
tapi seperti juga harapan, tak bisa jadi nyata,
ini bukan mimpi, sakitnya nyata,
setiap aku membuka mata,
aku tau,
ini nyata,

Tuhan,
ubah ini jadi mimpi,
dan bangunkan aku seperti sebelumnya.
dua bulan lalu,
saat pilihan masih berarti,
saat semuanya belum sesakit dan serumit ini.

Sabtu, 11 Februari 2017

4 hari selepas kau kubiarkan pergi


2/1/2017

gadis itu sedih dan bertanya
kenapa begini betul nasib kita ?
sudah ku bilang dari awal jangan masuk kelingkaran hidup saya
karna memang entah kenapa selalu ada saja yang menyiksa,
lalu dihari begini aku sudah tidak tau harus bicara apa,
muka rasanya sudah tak punya,
maaf sudah kadaluarsa,
mengaku jahat pun tak berbuah apa apa.
lalu apa yang ku bisa ?
meninggalkan pun tetap akan menjadi luka,
pergi mungkin pilihan yang disuka,
tapi mudah pun tak terasa.

Jumat, 10 Februari 2017

44 hari selepas kau kubiarkan pergi

     kutatap aplikasi memo dihandphone ku. aku tau aku bakal membuka luka lama seiring aku membuka memo ini. tapi kulakukan. kubaca satu persatu. seperti memukul diri sendiri rasanya. bahkan lebih sakit.
     setiap keping memo berisi kenangan kita. perkelahian, keraguan, janji janjiku, perjuangan ku tangisan ku keluh kesahku waktu aku memperjuangkanmu. aku lupa itu semua, lalu aku menghianatimu. sekarang sisa penyesalan. mestinya kita bisa bahagia.
      aku juga teringat upayamu untuk membuatku sembuh dari trumaku. waktu itu kutolak karna kenaifanmu, karna memang rasanya tak ada upaya yang dapat menyembuhkanku. untung saja dulu kau tak berupaya, karna akan percuma.
      seperti yang kuduga saat lepas denganmu, bagaimanapun sebabnya menjadi trauma besar pula padaku kini. tak ada yang mampu kuingat tak mampu lagi aku mengenang bahkan kadang menahan air matapun susah. luka besar sedang menganga dihatiku. menatap takdir kita. atau mungkin takdirku. atas luka berlarut. semakin terkenang seperti air garam.
      mungkin setelah ini kuputuskan berhenti bercinta. karna lelah sudah aku terjerat pada rantai rantainya. lelah sudah aku merasa gejolak manis jatuh cinta hingga harapan yang bisa kapan saja menjadi pahit sampai patah hati sebagai resiko pasti darinya.
      berbulan aku merana, menatap rasa yang kubiarkan di pojok sana. mengenang kesalahan demi kesalahan yang kuukir manis di kulit tanganku. mengingatkan tentang sebuah cerita novel, dimana tokohnya dapat menghapus memori pahit yang terlukis di sebuah mesin. andai kudapat kenyataan itu, ingin kuhapus dirimu.
      bukan, bukan karna kau memberi ku kenangan pahit. tapi karna kesalahanku yang kuperbuat padamu. hingga takdir kita tak berujung manis tapi air mata. karna kuhancurkan awal tahunmu. karna kuhancurkan semua milik kita.
       kini aku duduk diatas tempat tidurku, menatap layar handphone obrolan teman teman kita menangis sekali lagi. karna ternyata bukan hanya kamu yang kini menjadi trauma untukku. tapi mereka juga, karna setiap pembahasan mereka, nama nama mereka, mengingatkan ku atas apa yang telah hilang dan berhenti karna kesalahanku.
       tak kusangka sebenarnya akan sebesar ini lukanya. tapi ya ! aku butuh kabur, bukan untuk kabur dari masalah tapi untuk tak lagi terkenang ini semua karna menulis pun aku tak bisa, mungkin bisa berbotol air mataku pula, menonton film, bahkan musik pun kubenci. libur sejenak untuk ku bangkit, tak lagi melihat semua yang terjadi di handphoneku sebagai kenangan darimu, pahit maupun manis. menjadi aku lagi.

Selasa, 17 Januari 2017

baru ini rasanya tangisku seikhlas ini, setenang ini.
yaa, ini masih terlalu menyakitkan
usaha apapun masih belum bisa mengurangi betapa pedihnya akibat dari kesalahan yang kulakukan.
tuhan jika masih diijinkan aku berdoa,
izinkan aku mengatakannya sekali lagi
tak mungkin sudah kuminta dicabut cobaan ini, kejadian ini.
jadi hanya bisa kukatakan,
tolong berikan aku kekuatan untuk bangkit lagi.
setidaknya beri aku kekuatan untuk berpura.
tuhan ada begitu banyak kata yang ingin kutuliskan,
untuk mengurangi bebanku,
tapi jangankan untuk menulis,
berpikir pun aku tak mampu,
bahkan untuk mengangkat kepala,
menatap bayangan diriku disebuah layar pun terasa salah.
tuhan salahkah aku menyalahkan diriku segininya
sepele kah semua masalah ini,
masih bolehkah aku mengeluh setelah segala yang telah kulakukan
tuhan aku ingin percaya bahwa aku mampu
menghadapi ini semua,
mengambil pelajaran dari kesalahan yang kulakukan
lalu berhenti dan memaafkan diriku sendiri
menikmati setiap sisa luka seperti kata mereka
hingga waktu sembuh ditentukan
hingga doaku kau kabulkan

Rabu, 11 Januari 2017

bulan aku ingin menulis,

bulan aku ingin menulis kisah ini
kisahku dalam 120 hari ini,
tapi aku masih tak mampu.
belasan hari tak mampu menghapus lukaku.
tersenyum pun tak gampang kini.
aku kehilangan diri.

bulan taukah kau rasanya
saat kesadaranmu terpecah
tentang kenyataan yang kau harapkan menjadi hanya mimpi, si bunga tidur
atau mimpi yang kau harap jadi kenyataan
imajinasi seperti ada di gang buntu
terlalu banyak kisah rasa dan kata yang tak mampu ku susun menjadi pola padu
yang bisa mewakili ku mengatakan perasaanku.
seperti puzzle yang proses diselesaikan
sebenarnya apa yang sedang terjadi disini.
bulan aku ingin menulis,
sangat.
tentang semua ini,
tapi belum juga sadar diriku.
wanita itu tau bagaimana cara menyayat pergelangan tangannya
tau pula ia bagaimana rasa sakitnya,
ia tau bagaimana harus menjadikan kata kata sebagai pedang untuk dirinya sendiri.
atau pula bagaimana harus menutup telinga dari hatinya demi orang lain.
ia tak disangkal pintar dan cukup berani

namun di penghujung tahun ia menghilang.
muncul lagi menjadi gadis kecil
seperti itik kecil yang baru mengenal cinta
ia menjadi jalang tak berpendidikan
pengecut dan bodoh disaat bersamaan.

ketegasannya dilucuti oleh mahluk bernama cinta
cinta yang tak ditemukan kunci untuk membuka jeratnya
hingga untuk memilih menyerah pun tak bisa,
hingga pada akhirnya menghilangkan jati dirinya.