begitulah ibu berangkat kerja setelah azan isya berkumandang dan pulang saat pagi bahkan sebelum embun menetes. ibuku ibu terkuat dimataku, bekerja siang malam ditempat penuh dosa, club malam. mengantar minuman dosa dari satu meja kemeja lainya, menyaksikan gadis gadis yang rela mempertontonkan tubuhnya, ibuku bukan mereka, ibuku hanya mengabdikan dirinya sebagai pelayan pengantar makanan di tempat itu, tidak ikut meminum minuman dosa itu, tidak ikut mempertontonkan tubuhnya, mengangkat minuman berbotol botol yang beratnya hampir sama dengan mengangkat beberapa batu bata. berjalan diantara ramainya orang orang yang menari senang dibawah lampu remang dan musik disc jockey yang mengalun, berada diantara bahanya api rokok yang kadang hanya berjarak beberapa senti dari kulit lembutnya, kulit yang mengasuhku selama 15 tahun lamanya, kadang tak jarang berada diantara orang orang berbahaya, perkelahian orang orang yang sudah tak sadar karna minuman, yang bisa kapan saja melemparkan botol minuman yang tak seberat isinya kesembarang arah, berangkat dan pulang walaupun hujan, berada dijalan yang gelap yang kadang bahkan tidak ada seorang pun disebelahnya, menantang bahaya wanita yang berjalan ditengah malam, pernah juga ada orang jahat yang mengikuti ibuku. namun tuhan masih sangat baik kepadanya menjaganya disetiap detik perjuangannya. ibuku bekerja ditempat haram, berada diantara orang orang yang melupakan tuhan. bukan ini mau ibuku tapi ini yang didapatnya tapi dia cukup bersyukur masih ada tempat layak untuk dia berkerja, demi sekolah ku dan uang sanguku. cukup banyak perjuangan ibuku untuk hidupku, dan satu lagi.pengorbanannya untuk ayahku, dulu saat ayah ku belum bekerja dia harus ikhlas bekerja diantara dinginnya malam walaupun saat itu dia tau ayahku sedang tidur dengan istrinya yang lain, ibu tiriku. diantara dinginnya ac dan panasnya bahaya ditempat kerjanya dia tau suaminya sedang menagih kehangatan dengan wanita lain,anak perempuannya sedang tertidur sendirian dirumah kecilnya, bahkan anak laki lakinya sudah bisa mencari kebahagiaan sendiri dengan sering meninggalkan rumah. ibuku tidak marah, ibuku hanya diam, dia kesal tapi dia tau dia bersyukur ada sesuatu yang bisa membuat salah satu anaknya bahagia walaupun harus banyak dosa yang ditanggungnya. ibuku dikucilkan mertuanya, saudara iparnya karna beberapa fitnahan, tapi dengan tegar ibu mengingatkanku " bukan mereka yang menentukan takdir kita de, tapi kita sendiri" aku selalu tersenyum mengingat itu, berterima kasih kepada Allah karna Beliau telah memberikan malaikat yang lebih dari cukup untuk hidupku. malaikat yang berhasil membuatku mengerti hidup tidak semudah tertawa, bahkan tertawa pun kadang susah.
membuatku selalu bersyukur atas tawa ku, sekolah ku, teman temanku, makanan ku dan segala yang aku punya saat ini, memikirkan apa yang tidak kita punya hanya akan membuat kita kehilangan yang sebenarnya kita butuhkan. walaupun kadang aku bisa menjadi anak nakal, tapi ibuku tetap sabar mengingatkanku, jangan sampai aku salah langkah seperti kakaku, cukup kakak ku yang melakukan hal hal yg tidak seharusnya dilakukan, jangan aku.
kadang jauh dilubuk hati paling dalam, aku berpikir aku teringat akan kata seorang ustadz bahwa uang hasil dari membantu orang melakukan dosa adalah uang haram, dan saat seorang anak diberi makan dengan uang haram maka tubuhnya akan menjadi kurang baik, aku pernah merenungkannya bahwa kalimat itu cocok denganku. tapi lama kelamaan aku tidak terima. aku tidak percaya dengan penilaian manusia. sebaik baiknya orang itu masih ada tuhan yang maha sempurna, tentang uang atau pekerjaan haram itu, itu urusan tuhan. ibuku hanya mau membuatku bahagia, membiayaiku seperti kewajiban seorang manusia, dan kelakuan nakal ku itu karna pilihanku karna godaan godaan yang aku gagal abaikan. jadi bukan karna ibuku. ibuku malaikat terkuat kiriman Allah untukku. tidak ada alasan untuknya untuk menjadi orang berdosa. semua dosa nya itu karna orang lain.
ahh ibuku, betapa aku mencintainya. " de, tidur sudahh" ucap ibuku lagi lebih nyaring dari tadi. " hehe, iya iya bentar, ibu mau tidur jam berapa ?" jawabku setengah tertawa, " habis bersih bersih ibu tidur. lalu ibu kembali membersihkan riasanya. dan sesuai janjinya setelah selesai beliau berbaring di sebelahku dibawah selimut yang sama, hanya berdua dirumah kecil ini. kami tidur dengan kehangatan, karna beberapa jam lagi kami akan bangun lagi, untuk sekolah ku dan ibu akan kembali membersihkan rumah.
itulah ibuku, malaikat terkuatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar