Sabtu, 20 April 2013

cuma kisah

'' apa ? kamu biarkan dia menciummu ? '' tanya  sari yang sepertinya sangat terkejut.
'' aku menyayanginya sar, kamu tau itu ? '' jawbku dengan senyum memelas, memohon untuk sari tidak marah.
'' tapi berapa kali dia nyakitin kamu, bahkan status kalian ga jelas. kamu biarkan dia gunain kamu lagi '' kata sari dengan wajah tenang, dia tau jika dia bicara dengan emosi aku pasti akan menangis.
'' tapi aku suka . '' ucapku masih dengan senyum itu.
'' baiklah, tapi jangan biarkan dia melakukan sesuatu yang lebih, dan kamu ga boleh terlalu berharap '' sari mengingatkan.
'' iya '' senyum memohonku berubah menjadi senyum senang, senang karna sahabat ku tidak memarahiku. aku tau tindakan ku bodoh sekali, membiarkan seorang yang selalu memberikan ku harapan palsu, dan selalu hanya datang disaat dia butuh mencium bibirku, bibir yang seharusnya hanya boleh di kecup oleh laki laki halal yang pantas ada disampingku, yang memeluku tidak hanya disaat dia butuh aku, tapi juga disaat aku membutuhkannya. aku mengerti tapi aku tidak menyesal. aku merasa tidak ada yang perlu ku sesali, karna aku mencintainya, dan memang menginginkannya, hanya bibirku tidak lebih, janjiku.

'' hey tapi kamu harus ceritain prosesnya '' sambung sari lagi,
'' harus ya ? '' tanyaku
'' harus. '' tegasnya.

memang sepertinya murah sekali, tapi aku tak kuasa menolaknya, saat itu dia meminta ku mengajarinya matematika di kostanku. mengajari nya tentang pelajaran yang kataanya sama seperti wanita, terlalu susah. ini bukan pertama kalinya, orang yang ku cintai ini memang lebih berstatus sahabatku. kami sering belajar bersama seperti ini, setelah belajar seperti biasa kami tidur ditempat tidurku, tidak melakukan apa apa tidak juga tidur, hanya mengistirahatkan tubuh ditempat yang sama, kasurku. kadang kami bercerita, menonton tv , hanya malam itu dia berbeda. di setiap kesempatan dia menggenggam tanganku, kadang kucoba melepaskan. senang sebetulnya ada tangannya menggenggam tanganku hanya saja itu terlalu tidak biasa. jadi aku mencoba melepaskannya. lalu dia juga memelukku, kalo itu sejujurnya biasa, katanya suhu tubuh ku yang hangat membuatnya hangat pula. sering ku tanyakan bagaimana suhu wanita wanita temanmu yang lain, lalu dia selalu menjawab tak ada yang lebih hangat dariku. dia tau perasaan ku tapi dia tak pernah menjawab. saat itu setelah dia memelukku aku hanya diam, tak juga membalas pelukannya. aku sadar dan tidak mau menjadi mainannya, atau terjerat dalam permainannnya. namun dia menatap mataku lekat, aku hanya diam dan menatap balik matanya. lalu dia tersenyum, tak ada yang berubah sepertinya dia tetap suka bercanda, menjadikan perasaanku kepadanya yang membiarkan dia memeluk dan menyayangiku tanpa ikatan sebagai bahan candaan. aku memilih untuk terpejam, tak mau menatap matanya. karna bagiku semua yang dia lakukan hanya permainan untuknya.

'' lalu ? ''
'' sabar ''

saat ku terpejam tiba tiba saja ada sesuatu yang melekat dibibirku. bibirnya, bibir yang selama ini hanya bisa kupandangi. bibir yang selalu kujadikan target dalam hidupku. sesuatu yang tidak pernah dilakukanya selama 3 tahun kami kenal, menciumku. mataku terbelalak, dan dia melepas ciumanya, dia mengalihkan pandangannya ke langit langit kostanku. aku hanya bisa terdiam. lalu dia menoleh dan mendekatkan wajahnya lagi ke wajah ku, dan menciumku lagi. kali ini lebih lama, dan kami sama sama sadar melakukannya. saat ciuman itu lepas lagi, rasanya seperti ada kembang api yang dipenuhi dengan kupu kupu meledak diperutku, rasa bahagia itu. dia tersenyum lagi.

tak berapa lama dia pamit pulang, dia memelukku sekali lagi, lalu menghilang dibalik pintu kamarku. dia bilang dia tidak ingin di antar jadi aku hanya diam saja.

'' begitu saja? lalu ?'' tanya sari penasaran.
'' saat pulang dia sms '' jelasku.
'' apa katanya ? ''tanya sari yang seperti nya memang sangat penasaran.
''dia hanya minta maaf ''
'' hmm seperti ada yang dia sembunyikan ''
'' iya. '' ucapku sambil menatap layar handphone.

tak berapa lama handphone sari berbunyi, sebuah panggilan yang sepertinya penting karna sari langsung mengangkatnya.
'' hallo''
'' sari kamu lagi sama aini ?''
'' iya kenapa mbk ?''
'' bisa kamu bawa dia kerumah ?''
'' ada apa mbk ?''
'' bawa saja ya, penting ''
'' iya mbk ''
 begitu saja saluran teleponnya terputus .
''siapa ?'' tanyaku,
'' orang penting, bisa temani aku ke suatu tempat ? ''tanyanya.
'' kemana ?''
'' ikut saja penting, '' mohonnya dngan menggenggam tanganku.
'' baiklah ''

lalu kami masuk kemobil bersama sama. kubiarkan dia menyetir karna dia yang tau jalan nya. tak berapa lama rasanya aku mengenal jalan yang kami lalui ini, jalan menuju rumah raka.
'' ngapain kita kesini ri ? ''
'' ga tau, tadi ditelpon mbk rina kakaknya raka dsruh datang. ''
'' kok kamu ga bilang ? ''
''  ga paa ''

tak jauh didepan rumah raaka bendera kuning tergantung. jantungku mulai berdegup kencang. rumah itu ramai dengan orang orang yang rasanya familiar.
'' ri siapa yang meninggal ri ?''
'' ga tau ni, sabar ya kita keluar. ''

aku sudah sangat  tidak sabar, setelah mobil berhenti sempurna segera saja aku berlari masuk rumah raka. entah siapa saja yang sudah ku tabrak tapi aku tidak perduli. sampai aku melihat ibu raka menyambutku dengan tangis di depan pintu segera memelukku. aku segera menenangkannya, tangisnya terasa sangat pilu. lalu ku pandang seisi ruangan. dan ku liat seseorang yang sangat aku cintai terbujur kaku di tengah orang orang yang sedang membaca kan doa doa untuknya. rasanya benar benar tak sanggup untuk ku lagi berdiri, segera saja aku terduduk di depan pintu tak bisa lagi ku tahan air mataku. aku dan ibunya mennagis bersama, kak rina tak terlihat jauh dari kami juga sedang membersihkan air matanya.

setelah beberapa lama kami sama saama tenang menatap tubuh orang tercinta kami yang disholatkan dan mulai dibawa ke tempat terakhirnya.
nisan itu '' dirgaraka syailendra'' orang yang kucinta tapi tak bisa ku miliki sekarang dimilik tuhan, oh tidak bukan dimiliki tuhan, tapi kembali pada tuhan, pesan singkat itu pesan terakhir darinya, sari masih saja berusaha menenangkanku.

'' aini, sabar ya ini surat dari raka ''kata kak rina sambil menyerahkan sebuah kertas berbentuk pesawat kepadaku.
aku tertawa kecil melihat surat itu '' makasih kak ''
'' kami pulang ya nak, maafin kesalahan raka ya '' ucap mamanya raka sekali lag.
'' iya tante raka ga punya salah sama aini. '' ucapku mengenggam tangan ibunya erat. lalu kami pulang bersama .ku buka surat itu dimobil. sari hanya diam melihat gerak gerikku.

dear aini orang yang selalu mencintaiku, 

maafkan aku tak pernah membalas perasaanmu, maafkan aku selalu memberimu harapan tanpa ada kepastian, maafkan aku selalu mempermainkan perasaanmu, maafkan aku. dulu upikir aku tidak  menyayangimu, tapi aku salah. malam itu saat kutatap wajahmu ku sadari perasaanku bertumbuh kepadamu. syang terlambat, kanker stadium akhir ini keburu mengambil nyawaku, baru pulng dari rumahmu tadi sakit ini kambuh, dan aku tau mungkin ini waktunya, jadi ku sempatkan surat ini kutulis dan ku titipkan ke kak rina. ku ceritakan semua yang terjadi pada ibu dan rina tentang kita. seperti permintaan terakhirku untuk mengundangmu kepemakamanku. kalii ini kamu harus benar benar melupakanku ya, aku sayang kamu, aku ga mau kamu menyayangi orang seperti ku. orang berengsek ini sudah mati. maaf karna aku selalu menyembunyikan sesuatu darimu. ciuman itu hadiah terakhir dari ku. ingat lupakan aku. 

ku letakkan surat itu kedasbor, tak menangis. aku hanya menatap langit. berterima kasih kepada tuhan dan memohon kepadanya untuk tempat terbaik untuk orang tercintaku.


                                                                                             in memoriam : dirgaraka syailendra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar