dulu kuputuskan untuk tidak mencintai laki laki yang lebih muda dariku, berbahaya kataku. takut akan emosi mereka yang masih tidak tetap, takut akan cara berpikir mereka. namun kau datang membuatku menarik lagi ucapanku.
saat itu aku mengenalmu, adik kelas bagian teknologi yang merupakan bagian dari kepanitiaanku. tak ada rasa apapun saat itu. kamu dan temanmu sangat hormat padaku, melakukan apa yang aku saran dan perintahkan, tidak membantah dan menghibur saat aku mulai kelelahan. namun cara mu bicara melambangkan kedewasaan tak seperti adik kelas lainnya. kacamatamu yang sepertinya pernah patah sering kuperhatikan, tinggi badanmu yang lebih dariku, potongan rambutmu, keingin tahuanmu, hingga mata bulat hitam legam mu yang menarik perhatianku tak pernah membuatku menyadari ada rasa ku padamu.
semuanya diawali dari candaan yang terlalu sering kita sebutkan, tentang kau milikku dan ku milikmu tentang tak ada yang boleh bersama mu selain aku dan tak ada yang boleh bersama ku selain kamu. berlanjut pada pesan singkat kita di sosial media, menuju genggaman tangan atau gandengan menjagaku. kurasakan perasaan aneh menggelitikku saat aku mulai selalu mencarimu, membutuhkanmu. tidak lucu menurutku karna kau lebih muda dan berbahaya, namun tatapanmu mengalahkan ketakutan itu. hari itu ku anggap hanya sekelebat ketidak sengajaan yang mengganggu pikiran. tidak serius, tidak nyata dalam itungan hari juga akan menghilang. aku tidak menyukaimu kamu tidak menyukai ku, hanya sebuah candaan.
namun keesokan harinya kau mengunjungiku dikelasku dengan beberapa alasan kita duduk berdua, teman temanku yang entah mengapa meninggalkan kita. dan kita tenggelam didalam obrolan dan candaan manis membuatku memikirkan ada apa denganmu. mengapa kau mendatangiku ? mengapa kau tidak mengijinkan temanmu menemani kita ? mengapa kau membatalkan janjimu bersama teman temanmu untuk bersamaku ? mulai timbul secercah rasa atau mungkin harapan, mulai ku tarik lagi prinsip ku untuk mempertimbangkan bersama.
saat itu pertama kali kau ambung aku tinggi, namun malamnya kau jatuhkan. baru ku ketahui kau tidak hanya dekat denganku. melainkan dengan salah satu kenalanku, dan malam itu kau membawanya di acara makan bersama sahabat sahabat kita. ku tahan tangis bersikap seperti biasanya, aku yang ceria dan berani walau sahabatku menatapku dengan senyum namun tatapan kesedihan. kau mengecewakanku saat rasa itu ada.
malam itu kuurungkan segalanya ku tanamkan bahwa semuannya hanya bercanda ( sekali lagi ) demi perasaan ini yang belum tumbuh besarnya, aku berpikir semuanya benar benar bukan ke seriusan. namun malam itu juga kamu kembali menghubungiku dan lemahnya aku selalu kalah dengan hatiku. berhari hari kita berbincang tentang apa saja, kamu mulai sering memberiku kode kode, kamu mulai berani membawa perasaan dalam perbincangan kita, kamu memanggilku cengeng sampai menjadi sayang, kamu mulai membahas laki laki yang pernah dekat denganku, sampai akhirnya kamu menyuruhku menunggu mu, menunggumu untuk memilih aku atau dirinya. segala harapan ku jatuhkan kepadamu, segala tingkahku membuatku mempercayaimu, dimulai dari vidcallmu sampai kiriman kiriman foto wajahmu. membuatku menginginkanmu sebagai rumah ku yang baru. nyaman itu menyertaiku membuatku berani mengatakan aku mencintaimu, seharusnya aku tau, seharusnya aku ingat. mencintai dirimu berbahaya.
hari itu akhirnya kau mengatakan bahwa kau tidak memilih diantara kami, demi menjaga perasaan kami. aku tau kau lebih memilihnya, katamu kamu lebih nyaman dengannya walaupun aku tidak pernah mendengar itu. saat itu ku kerahkan semua kemampuanku untuk melupakan setiap kata yang kudengar tentang kau dan dia karna begitu sakit setiap terngiang dikepalaku. dan saat aku menulis ini aku benar benar lupa. bukan hanya kenyataan itu, yang menyakitiku kenyataan tentang kamu mulai menjauhiku dengan tidak menghubungiku, kenyataan tentang keadaan ku yang sedang rentan sakit, kenyataan tentang kamu masih menghubunginya, kenyataan tentang dia juga menyukaimu.
inginku berhenti, sangat ingin. demi apapun, namun beginilah aku saat berani melabuhkan hati, ketergantungan. jadi disaat kau mulai menjaga jarak, aku percaya perasaanku masih akan berlanjut disetiap papasan mata kita. disaat kau mulai menjauh, aku bersumpah akan melakukan apapun demi kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar