kutatap aplikasi memo dihandphone ku. aku tau aku bakal membuka luka lama seiring aku membuka memo ini. tapi kulakukan. kubaca satu persatu. seperti memukul diri sendiri rasanya. bahkan lebih sakit.
setiap keping memo berisi kenangan kita. perkelahian, keraguan, janji janjiku, perjuangan ku tangisan ku keluh kesahku waktu aku memperjuangkanmu. aku lupa itu semua, lalu aku menghianatimu. sekarang sisa penyesalan. mestinya kita bisa bahagia.
aku juga teringat upayamu untuk membuatku sembuh dari trumaku. waktu itu kutolak karna kenaifanmu, karna memang rasanya tak ada upaya yang dapat menyembuhkanku. untung saja dulu kau tak berupaya, karna akan percuma.
seperti yang kuduga saat lepas denganmu, bagaimanapun sebabnya menjadi trauma besar pula padaku kini. tak ada yang mampu kuingat tak mampu lagi aku mengenang bahkan kadang menahan air matapun susah. luka besar sedang menganga dihatiku. menatap takdir kita. atau mungkin takdirku. atas luka berlarut. semakin terkenang seperti air garam.
mungkin setelah ini kuputuskan berhenti bercinta. karna lelah sudah aku terjerat pada rantai rantainya. lelah sudah aku merasa gejolak manis jatuh cinta hingga harapan yang bisa kapan saja menjadi pahit sampai patah hati sebagai resiko pasti darinya.
berbulan aku merana, menatap rasa yang kubiarkan di pojok sana. mengenang kesalahan demi kesalahan yang kuukir manis di kulit tanganku. mengingatkan tentang sebuah cerita novel, dimana tokohnya dapat menghapus memori pahit yang terlukis di sebuah mesin. andai kudapat kenyataan itu, ingin kuhapus dirimu.
bukan, bukan karna kau memberi ku kenangan pahit. tapi karna kesalahanku yang kuperbuat padamu. hingga takdir kita tak berujung manis tapi air mata. karna kuhancurkan awal tahunmu. karna kuhancurkan semua milik kita.
kini aku duduk diatas tempat tidurku, menatap layar handphone obrolan teman teman kita menangis sekali lagi. karna ternyata bukan hanya kamu yang kini menjadi trauma untukku. tapi mereka juga, karna setiap pembahasan mereka, nama nama mereka, mengingatkan ku atas apa yang telah hilang dan berhenti karna kesalahanku.
tak kusangka sebenarnya akan sebesar ini lukanya. tapi ya ! aku butuh kabur, bukan untuk kabur dari masalah tapi untuk tak lagi terkenang ini semua karna menulis pun aku tak bisa, mungkin bisa berbotol air mataku pula, menonton film, bahkan musik pun kubenci. libur sejenak untuk ku bangkit, tak lagi melihat semua yang terjadi di handphoneku sebagai kenangan darimu, pahit maupun manis. menjadi aku lagi.
Menghapus kah ?
BalasHapuskayaknya ga jadi deh maz
HapusTapi aku sedang merindu tik, belum bersedia menghapus:')
BalasHapusboleh aku nanya ? ini untuk yang mana ? kelak, sekarang masih belum muncul kata akan
HapusSebuah kaca yang retak tidak bisa disatukan kembali secara utuh. Ah sudahlah, perihal rindu memang kerap menyakitkan
BalasHapus