Kamis, 29 Desember 2016

hujan bulan juni

hujan bulan juni
judul itu menarikku kedalam bayanganmu
bagaimana bisa waktu yang begitu pendeknya membuatku tergiur olehmu
apa karna kecintaan kita pada sastra yang menciptakan ketertarikan
atau buai manismu yang menyentuh hati rapuhku
hati yang begitu bodoh ini
yang bahkan sudah tau bagaimana dan masih mau
hujan bulan juni
buku itu menjadi saksi
tentang percakapan manis yang tak terganti
atau pagi cerah yang hangat
saat kusandarkan daguku pada bahumu
saat kutatap lurus pada matamu
yang membuatku dipenuhi candu.






mati dikepalaku

bunga mawar indah darinya mati dikepalaku.
sejak aku terjatuh dan tak dipapahnya
dia memang bukan pria dewasa, tak juga kuharap dia sepertinya
sering aku kecewa tapi hatiku lebih menyayanginya
tapi semalam rasa lukanya berbeda,
aku benci saat harus marah atas sesuatu yang bukan hak ku
aku benci saat harus marah dan tak bisa mengatakannya
aku marah pada dia yang membiarkanku merasakannya.

dia bersamaku,
tapi menghubungi wanita lain
dia bersamaku
tapi mencinta wanita lain
dia bersamaku
tapi menangisi wanita lain
aku yang awalnya menyayanginya setengah dari mati,
kali ini mulai tak mengerti

biar kutanya ini

akhirnya hujan kembali bertamu, lama rasanya tak kudengar hujan kala hari belum terlalu larut. mengetuk langit langit rumah dengan kehadirannya. mengingatkanku atas sebuah percakapan manis di telepon beberapa waktu lalu. membisikkan memori manis lewat derai angin sejuknya. membuat pikiranku kembali menjelajah sebuah rasa yang menciptakan keinginan berkata kata.

lalu, biar kutanya ini. apa kabarmu wahai pecinta hujan ? sudahkah kau pulang ? atau kau masih disana ? di kerajaanmu ? tempatmu tampak seperti pangeran, bertatapan tajam, bersuara candu, yang sekarang sedang melebarkan wilayah berkuasa di hatiku.

benar katamu hujan tidak menyebalkan, apalagi menakutkan. mulai kumengerti kenapa kau suka hujan. mungkin tentang ketukan irama atau suasana yang hadir olehnya, tentang banyaknya kisah yang hadir bersamanya.

lalu biarkan aku menanyakanmu. apa yang sedang kau lakukan ? apakah kau juga sedang merasakan hujan ? apa kali ini kau masih menyukainya ? apa hujan ini mengingatkanmu pada seseorang ? seperti hujan mengingatkanku kepadamu. orang asing yang entah lewat pintu mana berhasil ada disini. orang asing yang asanya seperti misteri.

lalu ini yang terakhir. namun daripada bertanya aku lebih memilih meminta. tetaplah mencintai hujan karna aku selalu mengingatmu disetiap tetesnya. tetaplah mengingatku sebagai aku dan bukan orang lainnya. dan tetaplah jadi dirimu sendiri karna tak bisa kubantah, kau sudah menjatuhkan ku begitu dalamnya.


terinspirasi dari cerita seorang teman 
yang begitu menggilai gula gula dunianya,
seorang pecinta hujan.

Sabtu, 17 Desember 2016

aku rindu dirinya

bulan aku rindu
pada dirinya yang dulu.
yang pantas dikasihani dulu.
dia yang membenci dirinya sendiri
dia yang di cela tanpa bukti
dia yang disakiti
dia yang selalu mencoba sempurna dulu.

aku rindu dia yang dulu
karna saat itu dia sadar siapa dirinya,
dia benar,
dia trus mencoba,
dia memperhatikan benar buruknya,
dan dia tau dimana seharusnya logika bekerja.

tidak, bukan, bukan berarti sekarang logikanya tidak bekerja.
hanya saja dia terlalu mementingkan egonya.
sekarang dia lebih mementingkan hatinya.
tidak, bukan, bukan berarti sekarang dia sudah tidak membenci dirinya.
malah sekarang dia benar benar merusak batasan batasannya. 

dia yang sekarang sudah terlalu jauh bermain,
dia enggan pulang,
dia enggan mengerti.
sekarang dia tidak pantas dikasihani,
dia terlalu mencintai dirinya sendiri.
memang tidak seharusnya dia di puji,
para arjuna ini telah terlalu memanjakannya.

bulan, tanyakan kepada tuhan tentang takdirnya.
mau sampai kapan dia berjalan,
menyusuri jalan yang salah
hingga bisa saja dia terjatuh dijurang penyesalan
atau di sungai penuh cela

bulan sampaikan pada tuhan
beri dia kekuatan
untuk menghentikan yang sudah salah
untuk kembali
agar terobati rinduku padanya,
agar kembali dia pada yang seharusnya.
agar aku tak dihujani ketakutan setiap harinya.
demi diriku, yang ada didalam dirinya.

Jumat, 09 Desember 2016

sepotong pikiran

jangan biarkan aku berkata lelah
karna bahkan semut pun tau aku lemah
jangan biarkan aku sendiri
karna bisa saja ada yang datang menghancurkan dindingku ini
atau mungkin kau rela melepasku pergi
sehingga aku dapat menghancurkan diri ?

Kamis, 08 Desember 2016

sepasang tangan

tangan itu berjasa,
seperti saksi di sebuah pengadilan.
andai tangan bisa bicara,
ia akan membantu manusia mengerti,
jika mereka bertanya tanya.

tangan itu bersaksi
tentang awal sebuah perkenalan,
yang terkadang bisa berujung kesuksesan.
tangan juga yang bersaksi,
menjadi tanda tentang rasa yang tumbuh,
diantara dua insan manusia.
atau bahkan mungkin menjadi sejata,
saat bicara tak lagi berfungsi semestinya.

andai tangan bisa bersaksi,
tentang sentuhan siapa yang paling diingini.
maka tak akan ada kesalahpahaman,
atau rasa yang dibohongi.
andai tangan bisa bersaksi.


untuk siapapun yang tengah berjuang,

untuk siapapun yang tengah berjuang,

tidak ada berjuang yang menyenangkan.
berjuang juga tidak melulu berkorban,
berjuang hanya tentang yang menginginkan.

kau ingin dia untuk dirimu,
tapi dia tidak ingin kau untuknya,
karna jika dia ingin, kau tidak perlu berjuang.
atau dalam kasus lain,
takdir tak mengizinkan kalian bersama,
jika ini terjadi kalian pun akan tetap berjuang,
berjuang untuk melupakan,
karna mungkin..
kalian tidak pantas. 
atau takdir juga ikut ragu, sehingga membuat kalian melakukannya.
sehingga semua terbukti nyata.
sehingga semua akan lebih berharga.

semuanya sesederhana apa kau menginginkannya.
karna jika tidak,
tidak ada juga sebuah perjuangan.

terkadang,
cinta sesederhana itu.