Wahai Penunggu manis,
mengapa kau duduk sendiri ?
Menatap belasan meter dibawah mentari pagi.
Tak tentu arah dimana pikiranmu menari.
Wahai Penunggu manis,
Mengapa kau memilih berdiam diri ?
Bukankah rasa diciptakan untuk terpatri?
Mengapa kau biarkan hatimu berjuang sendiri ?
Wahai Penunggu manis,
ajarkan aku menunggu dengan manis,
seperti yang selalu kau lakukan tanpa amis,
agar kelak aku tak mengemis,
untuk cinta yang tak bisa ku tepis.
.
.
.
Terinsipirasi dari kakak tingkat yang berbakat jatuh cinta diam diam, tapi sekarang katanya enggak lagi.
kak mel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar