Luka ku terbuka,
aku menggali lagi,
mencari kabut darimana ini.
Aku berkelana,
Membawa sebilah kayu untuk membuat tepi,
tapi juga tak tau, dimana mesti batas dibatasi.
Kabut abu abu,
saat bahkan emosi dan nafsu tak bisa menentukan sampai mana batas bersatu.
Kepala bagai bom waktu, menunggu waktu beradu.
Mencari celah dan cara harus sampai mana dongeng dipadu.
Rasa tak kunjung berakhir malah semakin menyatu, tak lagi tentu arah dan waktu.
Jumat, 11 November 2016
Jumat, 04 November 2016
Penunggu Manis
Wahai Penunggu manis,
mengapa kau duduk sendiri ?
Menatap belasan meter dibawah mentari pagi.
Tak tentu arah dimana pikiranmu menari.
Wahai Penunggu manis,
Mengapa kau memilih berdiam diri ?
Bukankah rasa diciptakan untuk terpatri?
Mengapa kau biarkan hatimu berjuang sendiri ?
Wahai Penunggu manis,
ajarkan aku menunggu dengan manis,
seperti yang selalu kau lakukan tanpa amis,
agar kelak aku tak mengemis,
untuk cinta yang tak bisa ku tepis.
.
.
.
Terinsipirasi dari kakak tingkat yang berbakat jatuh cinta diam diam, tapi sekarang katanya enggak lagi.
kak mel
mengapa kau duduk sendiri ?
Menatap belasan meter dibawah mentari pagi.
Tak tentu arah dimana pikiranmu menari.
Wahai Penunggu manis,
Mengapa kau memilih berdiam diri ?
Bukankah rasa diciptakan untuk terpatri?
Mengapa kau biarkan hatimu berjuang sendiri ?
Wahai Penunggu manis,
ajarkan aku menunggu dengan manis,
seperti yang selalu kau lakukan tanpa amis,
agar kelak aku tak mengemis,
untuk cinta yang tak bisa ku tepis.
.
.
.
Terinsipirasi dari kakak tingkat yang berbakat jatuh cinta diam diam, tapi sekarang katanya enggak lagi.
kak mel
Langganan:
Komentar (Atom)