Kamis, 25 Februari 2016

diriku yang baru

bagaimana kabarmu ?
apakah masih rutin jadwal menangisi kehidupanmu ?
apa masih sering kau dengar suara pedang pedang itu ?
atau kau masih berkubang dintara kebencian ?
masih kah kau berdoa balas dendam mu lancar, kepada orang orang yang membuat kepalamu diinjak? kepada orang orang yang membuat ibumu menangis ?
apa kau masih merasa takut ditinggalkan?
apa kau masih mencoba menjadi gadis nakal dengan rokok dan para laki laki itu ?
masih kah kau mencari hal baru ?
sudah bisakah kau percaya orang lain ? sahabat mu ? Tuhanmu ?
sudah hilangkah semua sakit hatimu ?
masih kah kau gemar memohon dan berbohong ?
atau gemar membahagiakan orang lain di sela tangismu ?
masih kah kau menjadi gadis lemah itu ?
masih kah kau membenci jalan pikiranmu?
masihkah kau dendam dengan hatimu sendiri ?
atau kau sudah mencoba memperbaiki segalanya ?
dengan cara apa ?
masih kah kau merasa iri atau benci dengan orang orang disekitarmu ?
atau, masih kah kau berpikir mereka semua jahat kepadamu ?
mereka yang memfitnah mu ?
mereka yang menggurui mu ?
mereka yang merebut kebahagiaanmu ?
mereka yang menginjak harga dirimu ?
mereka yang menusuk mu dari belakang ?
para penjilat ?
menggunakan kebaikanmu ?

apa kabar mereka ?
apakah baik baik saja ?
atau kau sudah mengakui segalanya?
tidak, tidak mungkin bukan ?
kau bukan gadis seperti itu.
kau pasti lebih memilih tersiksa daripada menyakiti perasaan orang lain, iyakan ?
kau pasti masih gadis yang dulu.
bagaimana rasanya ?
masihkah sangat sakit ?
masihkah merenggut semua tenaga mu ?
masihkah membuatmu ingin mati ?
sampai kapan ?
sampai kapan kamu sadar akan apa yang kamu harus lakukan ?
tidak
bukan
bukan dengan mengatakan kepada mereka.
carannya ?
kau ingat ini ?
"jika rasa sakit itu masih ada, berarti Tuhan menyangi kita, kita sudah bermain terlalu jauh, kita harus kembali kepadanya"
bukannya kau yang mengatakan kalimat panjang itu ?
atau kau melupakan kata katamu lagi seperti biasa ?
atau apakah kau benar benar lupa ?
mengingat prasangka buruk menenggelamkan semuanya. 
masih kah kau seperti itu ? wahai pribadi baruku

balada seorang gadis

gadis itu merasa menjadi seperti sebatang lidi,
padahal dia diajari menjadi sebilah pedang.
diwariskan luka,
diajarkan sakit,
dikelilingi kebohongan dan ingkar janji.
keluarga besarnya adalah fitnah
dia dicontohkan mendendam,
ditanamkan padanya kebencian
bahagianya di rebut orang adalah lagu yang setiap hari ia dengarkan
punya seperti tak punya,
disebut mata mata,
dipukul seperti pendusta
padahal dia tau apa?
lalu dia tumbuh menjadi bunga mawar
indah namun berduri 
banyak hewan hinggap di dekatnya
tapi hanya untuk menggunakannya
banyak manusia berada didekatnya
tapi menjauh karna durinya 
sang bunga mawar belum sadar akan dirinya
dia masih selalu bangga

gadis yang menjadi remaja
saat badai menimpanya 
membisikkan dengan hangat tentang siapa dirinya 
bunga mawar yang mekar pun melayu 
sadar untuk apa mengangkat dagu 
kini gadis itu dewasa
 paham akan dirinya 
mencoba mekar dengan lingkungan barunya
tapi kali ini bukan lagi badai 
melainkan batu besar menghantam kepalanya 
menghancurkan segenap kepercayaan dirinya 
menghancurkan dirinya 
memberinya luka, pribadi barunya
membangunkannya dari angan 
tentang dirinya kembali seperti semula 
menghidupkannya
menjadi tulang pada kakinya
dan air mata di sela lamunannya
gadis itu mekar lagi 
namun bukan dengan warna merah menariknya 
melainkan setangkai mawar hitam buatan