Rabu, 09 April 2014

langit jingga kala itu

langit jingga kala itu,
saat kau menggiringku kepersinggahan yang teramat ku hindari,
sebuah bukit tempat menara menara listrik berada,
bukan menara itu yang ku musuhi, melainkan ketinggian yang selama ini ku hindari.
tempat ini jauh dari keramaian, tak mudah ditemukan,
tempat dimana kita bisa melihat langit langit dari seluruh bangunan tempat rakyat berjuang.

langit jingga kala itu,
saat kau genggam tanganku
menatap lekat ke mataku,
meyakinkan diriku bahwa tak ada yang perlu ditakutkan saat bersamamu,
meyakinkan diriku bahwa jika aku terjatuh ke suatu tempat dibawah sana kau akan menangkapku, meyakinkan diriku bahwa kaulah pagar pembatas yang akan terus menjagaku.

langit jingga kala itu
saat kau menyentuh lembut lenganku,
saat perlahan kau memelukku,
membisikan kalimat yang tak pernah ku tunggu,
bukan ku tunggu seperti aku tak mau,
hanya saja lama nya waktu mampu menghapus harapanku saat dulu aku tunggu kalimat itu.
dan kali ini kau bisiki telingaku layaknya sebuah lagu,

langit jingga kala itu,
saat kau meminta izin agar dirimu menjadi kekasihku,
menjadi milikku
menjadi penjagaku,
menjadi sesuatu yang membuatku tak lagi takut
menjadi sesuatu yang selama ini ku tuju.

langit jingga kala itu,
saat kau menjadi kekasihku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar