Rabu, 22 Februari 2017

apa

apa dengan bersalah seseorang tidak memiliki rasa?
tidak bisa merasa patah ?
tak dapat menyesal dan merindu ?
apa dengan bersalah seseorang tidak punya hak untuk merasa cinta ?
apa dengan bersalah, orang orang disekitarnya tak turut campur tangan ?
keadaan tak ikut membumbui ?
apa semua terlalu sempurna dan hanya ia yang gila ?
tanyakan pada hati
tanyakan pada sel otak
berhenti menghakimi,

" bukan untuk itu anda hidup, anda adalah pengamat dan penikmat, bukan hakim."- supernova: ksatria, putri, dan bintang jatuh.

Senin, 20 Februari 2017

24 hari selepas kau kubiarkan pergi

22/1/17

aku terlalu tersugesti kamu sempurna
aku terlalu percaya 90 hari bersama bisa membuat kita sudah saling paham
aku terlalu yakin bahwa cuma kamu yang bisa mengerti
aku terlalu yakin pula kita memiliki pemikiran yang sama
aku terlalu takut tidak ada yang mencintaiku sebesar kamu

aku lupa,
aku lupa kamu juga pernah sejahat itu
aku lupa kamu juga pernah membagi hatimu
aku lupa kamu pernah bersedia kulepaskan
aku lupa kamu pernah, atau bahkan mungkin, hingga saat itu masih seegois itu.
aku lupa pada apa yang kuyakini,
bahwa kita ternyata melakukan hal yang sama.

Sabtu, 18 Februari 2017

20 hari selepas kau kubiarkan pergi

18/1/2017

karna sejahat apapun diriku dulu
karna semenyakitkan apapun yang ku lakukan terhadapmu
kamu telah dan selalu berada di singgasana

sejahat apapun kita saling melukai , kita pernah 60 hari berada dalam sesuatu yang nyata,
sejatuh apapun aku dengan dirinya,
kau tetap yang akan utama ku sapa,
kuberi kabar disetiap detiknya,
kau tetap yang kutangisi setiap malamnya,
kau tetap yang ku rindu, yang kan selalu kucari kala tak tampak kehadirannya,

bukan lagi hak dan kewajibanku untuk meyakinkanmu atas ini,
bukan lagi hak dan kewajibanku atas kepercayaanmu pada kata cinta,
karna aku yakin kau pun ragu,
begitu juga aku.
kita adalah dua insan manusia dengan jalan berpikir yang sama,
maka sekali lag, kau pasti mengerti.
karna setiap perih yang kau rasakan juga terasa pada hatiku,
sesakit apapun itu.

setelah ini semua,
selalu terpikir dalam diamku,
apa rahasia Tuhan setelah ini,
kita dipertemukan sebagai dua manusia layaknya berkaca,
kita didekatkan oleh takdir,
seperti kepingan puzzle kita disatukan,
lalu pada sebuah takdir kita dijauhkan kembali,
tapi semuanya tetap sama.
pola berpikir, sifat, selalu saling mengerti,
sudah kuserahkan pada Tuhan akan menjadi seperti apa kita nanti,
kadang aku menerka kau akan menjadi orang yang akan selalu bersamaku,
tapi takdir siapa yang tau, kehendak tuhan kelak akan menjadi seperti apalagi,
entah kelak kita akan benar benar saling memaafkan dan saling melengkapi,
atau hubungan kita tetap sampai disini.

Rabu, 15 Februari 2017

hati dan terlalu

hati manusia kabarnya luas
hati wanita kabarnya sedalam samudra
lalu semakin lama kita semakin tau
bahwa sesungguhnya rasa tak pernah berlalu

namun kita terlalu lama bersembunyi
terlalu banyak menerka
terlalu banyak menunggu
pada akhirnya semua yang terlalu akan menjadi tidak baik

hingga akhirnya kita terlalu berharap dan terlalu kecewa
hingga akhirnya cinta menjadi luka
hingga akhirnya kita saling menyalahkan,
mengabaikan kenyataan yang ada,

hingga akhirnya cerita ini kita tutup dengan kesepakatan.
entah pura pura atau nyata,
demi menjadi manusia yang kembali berlogika
menerima semua yang ada.

Senin, 13 Februari 2017

15 hari selepas kau kubiarkan pergi

14/1/17

karna jika dipikir kembali, dari awal seperti tidak ada jalan untuk kami.
sejak kami memilih untuk bersembunyi, hingga menjadi sembunyi sembunyi.
lalu Tuhan memberi jalan, tapi disertai tawaran yang menggiurkan diawal dan pilihan dibelakangnya.
hingga insting iblis dalam hati tergiur dan lupa, betapa menyakitkannya.
kuambil, lalu kami terpisah lagi.
hingga penyesalan tumbuh dan menyakiti hati.
setiap hari tersampai di mulut, jika saja aku tak begini, mungkin bahagia sudah kami.

tapi aku terlupa,
Tuhan menulis banyak takdir menyertai setiap pilihan yang Ia beri.
jika aku tak tergiur oleh tawaranNya, bisa saja memang semua berbeda,
bisa saja ada masalah lain yang datang,
ada dosa lain yang memisahkan.
bisa saja perkiraanku tentang bahagia yang akan selalu bersama kami itu salah,
siapa yang bisa menduga rahasia Tuhan,

lalu pada suatu sore,
kuputuskan untuk kembali baik baik saja,

berhenti mengasah pedang untuk diri sendiri,
sudah cukup kami saling menyalahkan satu sama lain maupun diri sendiri,
karna bisa saja,
memang bukan sekarang takdir kita,
atau bahkan tak ada takdir kita bisa bersama.

Minggu, 12 Februari 2017

11 hari selepas kau kubiarkan pergi

10/1/2017

Tuhan
ini seperti mimpi,
semuanya terasa baik baik saja disaat aku menutup mata.
aku sedang bersama mereka, rumah baruku, dan berikut juga orang orang tersayangku.
tapi masalah baru saja selesai disini, dan masih begitu menyakitkan.
jadi ternyata tak terlalu nyaman bersama mereka,
masih terlalu sakit.
lalu kucoba menutup mataku,
di pangkuan salah satu sahabatku,
dan rasanya lebih baik,
karna seperti mimpi, tak nyata,
selayaknya apa yang ku harapkan,
tapi seperti juga harapan, tak bisa jadi nyata,
ini bukan mimpi, sakitnya nyata,
setiap aku membuka mata,
aku tau,
ini nyata,

Tuhan,
ubah ini jadi mimpi,
dan bangunkan aku seperti sebelumnya.
dua bulan lalu,
saat pilihan masih berarti,
saat semuanya belum sesakit dan serumit ini.

Sabtu, 11 Februari 2017

4 hari selepas kau kubiarkan pergi


2/1/2017

gadis itu sedih dan bertanya
kenapa begini betul nasib kita ?
sudah ku bilang dari awal jangan masuk kelingkaran hidup saya
karna memang entah kenapa selalu ada saja yang menyiksa,
lalu dihari begini aku sudah tidak tau harus bicara apa,
muka rasanya sudah tak punya,
maaf sudah kadaluarsa,
mengaku jahat pun tak berbuah apa apa.
lalu apa yang ku bisa ?
meninggalkan pun tetap akan menjadi luka,
pergi mungkin pilihan yang disuka,
tapi mudah pun tak terasa.

Jumat, 10 Februari 2017

44 hari selepas kau kubiarkan pergi

     kutatap aplikasi memo dihandphone ku. aku tau aku bakal membuka luka lama seiring aku membuka memo ini. tapi kulakukan. kubaca satu persatu. seperti memukul diri sendiri rasanya. bahkan lebih sakit.
     setiap keping memo berisi kenangan kita. perkelahian, keraguan, janji janjiku, perjuangan ku tangisan ku keluh kesahku waktu aku memperjuangkanmu. aku lupa itu semua, lalu aku menghianatimu. sekarang sisa penyesalan. mestinya kita bisa bahagia.
      aku juga teringat upayamu untuk membuatku sembuh dari trumaku. waktu itu kutolak karna kenaifanmu, karna memang rasanya tak ada upaya yang dapat menyembuhkanku. untung saja dulu kau tak berupaya, karna akan percuma.
      seperti yang kuduga saat lepas denganmu, bagaimanapun sebabnya menjadi trauma besar pula padaku kini. tak ada yang mampu kuingat tak mampu lagi aku mengenang bahkan kadang menahan air matapun susah. luka besar sedang menganga dihatiku. menatap takdir kita. atau mungkin takdirku. atas luka berlarut. semakin terkenang seperti air garam.
      mungkin setelah ini kuputuskan berhenti bercinta. karna lelah sudah aku terjerat pada rantai rantainya. lelah sudah aku merasa gejolak manis jatuh cinta hingga harapan yang bisa kapan saja menjadi pahit sampai patah hati sebagai resiko pasti darinya.
      berbulan aku merana, menatap rasa yang kubiarkan di pojok sana. mengenang kesalahan demi kesalahan yang kuukir manis di kulit tanganku. mengingatkan tentang sebuah cerita novel, dimana tokohnya dapat menghapus memori pahit yang terlukis di sebuah mesin. andai kudapat kenyataan itu, ingin kuhapus dirimu.
      bukan, bukan karna kau memberi ku kenangan pahit. tapi karna kesalahanku yang kuperbuat padamu. hingga takdir kita tak berujung manis tapi air mata. karna kuhancurkan awal tahunmu. karna kuhancurkan semua milik kita.
       kini aku duduk diatas tempat tidurku, menatap layar handphone obrolan teman teman kita menangis sekali lagi. karna ternyata bukan hanya kamu yang kini menjadi trauma untukku. tapi mereka juga, karna setiap pembahasan mereka, nama nama mereka, mengingatkan ku atas apa yang telah hilang dan berhenti karna kesalahanku.
       tak kusangka sebenarnya akan sebesar ini lukanya. tapi ya ! aku butuh kabur, bukan untuk kabur dari masalah tapi untuk tak lagi terkenang ini semua karna menulis pun aku tak bisa, mungkin bisa berbotol air mataku pula, menonton film, bahkan musik pun kubenci. libur sejenak untuk ku bangkit, tak lagi melihat semua yang terjadi di handphoneku sebagai kenangan darimu, pahit maupun manis. menjadi aku lagi.