kau yang lemah,
di dadamu terdapat dunia yang luas namun rapuh.
banyak cinta yang telah kau hasilkan,
banyak pula tangis yang kau habiskan,
tidak inginkah kau bertanya?
tentang dunia mu yang tidak sempurna,
berisi polusi kenangan yang menyakitimu,
berisi kebohongan yang terpenjara di otakmu.
dunia yang membuatmu menjadi gadis balita,
mencintai coklatnya,
menyayangi mainannya.
dunia itu pula yang menjadikanmu remaja,
menyesali rasa yang kau habis kan untuk mereka,
tak berharga.
tak inginkah kau bertanya pada duniamu?
kenapa mengoleksi puluhan pedang yang kapanpun siap menghujammu dari dalam.
tanyakan pada duniamu,
mengapa banyak sekali kriminal?
mengapa mengumpulkan orang jahat?
orang orang yang menggenggam erat tanganmu,
orang orang yang mendengar keluh kesahmu,
orang orang yang mengecup bibirmu,
orang orang yang membuatmu nyaman.
semata karna kebaikanmu,
atau kenaifanmu,
atau bahkan kemunafikanmu,
lalu kau ditinggalkan.
menatap jejak kaki mereka,
mengais memori manis yang ada,
kenapa kamu membiarkan mereka menyakitimu?
kenapa kamu bahagia atas kebohongan mereka?
katakan pada duniamu,
tentang kebodohanm.
berhentilah menangis !
duniamu menjadi kelabu,
kau butuh pelangi,
mereka tak akan kembali,
lihatlah dengan matamu,
mereka bukan lagi mahluk di planetmu,
mereka tak akan melihat laut yang kau ciptakan dengan tangismu,
berhentilah menangis,
bangunlah!
kembali menjadi kau yang pemarah,
bangkitlah!
kembali menjadi kau yang arogan,
jangan biarkan mereka menyadari, betapa kelabu duniamu kini.
Sabtu, 19 Maret 2016
kenapa
Tuhan andai aku bisa bertanya
apakah aku dikutuk ?
apakah ini karma ?
kenangannya tak meninggalkanku,
aku ingin bertanya pada waktu,
kenapa kami begitu berjarak hingga tak bisa menyatu ?
aku ingin bertanya pada takdir,
kenapa kami harus bertemu ?
kenapa aku membiarkan dia memupuk rasa di hatiku ?
kenapa aku membiarkan dia menarik tanganku ?
kenapa aku membiarkan dia memelukku ?
kenapa aku membiarkan dia menjagaku ?
kenapa hatiku sendu saat bertemunya ? menatap matanya ?
kenapa jantungku berdetak lebih keras saat bersamanya ?
kenapa masih banyak takdir yang mempertemukan kami sementara kami tak bisa menyatu ?
kenapa bibirku masih selalu merasakan manisnya ?
kenapa hidungku masih bisa mencium aroma tubuhnya ?
kenapa telinga ku masih bisa mengingat suaranya ?
kenapa ingatanku masih selalu tentang manis bersamanya ?
kenapa tak kau buat ku melupakan segalanya ?
tuhan tak ada yang baik tentang dirinya? kenapa kau buat aku mencintainya ?
tidak,
kenapa aku mencintainya ?
kenapa semua bertahan selama ini ?
sudah hampir setahun.
tuhan maafkan aku, mungkin aku terlalu banyak bertanya.
apakah aku dikutuk ?
apakah ini karma ?
kenangannya tak meninggalkanku,
aku ingin bertanya pada waktu,
kenapa kami begitu berjarak hingga tak bisa menyatu ?
aku ingin bertanya pada takdir,
kenapa kami harus bertemu ?
kenapa aku membiarkan dia memupuk rasa di hatiku ?
kenapa aku membiarkan dia menarik tanganku ?
kenapa aku membiarkan dia memelukku ?
kenapa aku membiarkan dia menjagaku ?
kenapa hatiku sendu saat bertemunya ? menatap matanya ?
kenapa jantungku berdetak lebih keras saat bersamanya ?
kenapa masih banyak takdir yang mempertemukan kami sementara kami tak bisa menyatu ?
kenapa bibirku masih selalu merasakan manisnya ?
kenapa hidungku masih bisa mencium aroma tubuhnya ?
kenapa telinga ku masih bisa mengingat suaranya ?
kenapa ingatanku masih selalu tentang manis bersamanya ?
kenapa tak kau buat ku melupakan segalanya ?
tuhan tak ada yang baik tentang dirinya? kenapa kau buat aku mencintainya ?
tidak,
kenapa aku mencintainya ?
kenapa semua bertahan selama ini ?
sudah hampir setahun.
tuhan maafkan aku, mungkin aku terlalu banyak bertanya.
berbahagialah
berbahagialah kamu wahai yang kutinggalkan
tak perlu kamu memupuk dendam
tak usah membangun kembali rumah yang runtuh
sakitmu terbalaskan
hatiku mati rasa
oleh sahabatmu
oleh pilihanku
mungkin karma telah menemukan tempat tinggalku
mengurungku pada kenangan indah yang semu
melumpuhkan indra ku
tak usah kau takut aku bahagia
aku telah mati di setiap malam
terduduk
tertunduk
menangisi pilihan
menangisi kenangan
berbahagialah kamu wahai yang ku tinggalkan
tak perlu kamu memupuk dendam
tak usah membangun kembali rumah yang runtuh
sakitmu terbalaskan
hatiku mati rasa
oleh sahabatmu
oleh pilihanku
mungkin karma telah menemukan tempat tinggalku
mengurungku pada kenangan indah yang semu
melumpuhkan indra ku
tak usah kau takut aku bahagia
aku telah mati di setiap malam
terduduk
tertunduk
menangisi pilihan
menangisi kenangan
berbahagialah kamu wahai yang ku tinggalkan
Langganan:
Komentar (Atom)