sekali lagi, hujan membuat keributan diluar sana. aku, yang selalu tidak bisa acuh pada hujan berjalan menuju pintu rumah, duduk ditengahnya menatap hujan yang bukan lagi rintik. suaranya, basahnya, dinginnya, mengembalikan cerita klasik tentang kita, tentang hubungan kita yang trus begini saja.
sejak pagi kamu belum menghubungiku, mungkin masih ada yang lebih penting, mungkin kamu sedang terlelap. ini biasa terjadi, tidak biasanya karna penggantimu, sekarang sudah tidak bersamaku, tidak menemaniku saat hujan, tidak menanyakan kabar atau sekiranya menghiburku. dia sudah bersama cintanya. dia sudah bersama kehidupannya. aku tidak boleh egois dengan merasa memilikinya,iyakan ?
hujan ini deras, membuatku betah memandangnya, merasakan dinginnya, dan mendengar suaranya, mengembalikan rasa yang dulu sering mampir, sendiri. yaa sendiri lagi, dulu beberapa bulan lalu, cintaku. sebelum kamu, selalu menemaniku saat hujan, dia sadar mengerti tau bahwa aku tidak pernah tenang bila hujan, jadi dia kirimi ku pesan mengingatkanku hujan datang, mendengar ceritaku tentang suara hujan, dan tidak meninggalkanku. itu dulu, beberapa bulan lalu. maaf, dia mengerti. tidak seperti mu.
hujan ini deras, dulu aku punya sahabat, pacar, dan handphone jadi ada yang menemaniku. sekarang juga seperti itu, aku punya sahabat, pacar, dan handphone, hanya bedanya tidak ada yang menemaniku, sekedar menanyakan kabarku. aku sendiri saat aku tidak sendiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar