ini siang yang indah, diatas sepeda motor ku yang melaju kencang hampir menyalip mu didepanku, lalu kupelankan lagi tarikan gasnya agar aku tetap berada di belakangmu.
dan disinilah aku menatap wajahmu dari kaca spion motor, melaju sama kecangnya seperti ku. membonceng teman satu smp ku.
disinilah aku, hanya menjadi satu dari orang orang yang tak kau pandang, menjadi satu dari sekian banyak figuran dalam hidupmu.
hampir 6 bulan aku mengenalmu, namun tidak denganmu, posisimu sebagai kakak senior di ekskul sekolahku membuatku sering bertemu denganmu, mengenalmu.
dan sekali lagi tidak denganmu. kamu tidak mengenalku, tau namaku pun tidak.
namun dengan berani aku bahagia saat melihat senyummu,
dengan bodohnya aku salah tingkah bila didekatmu,
dengan gilanya aku mengakui bahwa ku menyukaimu.
tapi aku tidak melakukan apa apa, aku hanya diam disini mengendarai sepeda motorku, melihat mu dari belakang bersama perempuan lain yang aku tau bukan siapa siapamu, melihatmu menatap layar handphone mengetik yang seperti nya pesan singkat untuk orang spesialmu.
disini aku, dengan berani berharap aku yang duduk disana, dibelakangmu, mendengar suaramu, ucapanmu yang hanya untuku, berharap kamu mengenalku, mengetahui namaku, sekedar mengetahui keberadaanku.
tapi semuanya itu semu, harapan kosong yang kelak akan mati, yang kelak akan berkarat layaknya besi. tidak ada kemungkinan kamu mengenalku, bahkan tertarik kepadaku, aku hanya salah satu dari sekian banyak contoh pribahasa si pungguk yang merindukan bulan yang ada.
aku tidak mungkin menikmati tatapan matamu yang hanya untukku, bahkan menatapku pun kamu tak mungkin.
aku tidak mungkin menikmati suara mu saat berbicara denganku, bagaimana bisa, mengenalku pun tidak.
kedipan matamu, manis senyummu, merah bibirmu, hidungmu yang mancung, kuatnya tanganmu.
takkan mungkin kunikmati, jangankan untuk kumiliki, mengenalku saja tidak.
sekali lagi, ini hanya khayalan. seperti mimpi seorang bocah kecil untuk menjadi superman. kamu.. khayalan .. harapan yang semu. harapan yang tidak mungkin.
Sabtu, 21 Desember 2013
Senin, 02 Desember 2013
sendiri
sekali lagi, hujan membuat keributan diluar sana. aku, yang selalu tidak bisa acuh pada hujan berjalan menuju pintu rumah, duduk ditengahnya menatap hujan yang bukan lagi rintik. suaranya, basahnya, dinginnya, mengembalikan cerita klasik tentang kita, tentang hubungan kita yang trus begini saja.
sejak pagi kamu belum menghubungiku, mungkin masih ada yang lebih penting, mungkin kamu sedang terlelap. ini biasa terjadi, tidak biasanya karna penggantimu, sekarang sudah tidak bersamaku, tidak menemaniku saat hujan, tidak menanyakan kabar atau sekiranya menghiburku. dia sudah bersama cintanya. dia sudah bersama kehidupannya. aku tidak boleh egois dengan merasa memilikinya,iyakan ?
hujan ini deras, membuatku betah memandangnya, merasakan dinginnya, dan mendengar suaranya, mengembalikan rasa yang dulu sering mampir, sendiri. yaa sendiri lagi, dulu beberapa bulan lalu, cintaku. sebelum kamu, selalu menemaniku saat hujan, dia sadar mengerti tau bahwa aku tidak pernah tenang bila hujan, jadi dia kirimi ku pesan mengingatkanku hujan datang, mendengar ceritaku tentang suara hujan, dan tidak meninggalkanku. itu dulu, beberapa bulan lalu. maaf, dia mengerti. tidak seperti mu.
hujan ini deras, dulu aku punya sahabat, pacar, dan handphone jadi ada yang menemaniku. sekarang juga seperti itu, aku punya sahabat, pacar, dan handphone, hanya bedanya tidak ada yang menemaniku, sekedar menanyakan kabarku. aku sendiri saat aku tidak sendiri
sejak pagi kamu belum menghubungiku, mungkin masih ada yang lebih penting, mungkin kamu sedang terlelap. ini biasa terjadi, tidak biasanya karna penggantimu, sekarang sudah tidak bersamaku, tidak menemaniku saat hujan, tidak menanyakan kabar atau sekiranya menghiburku. dia sudah bersama cintanya. dia sudah bersama kehidupannya. aku tidak boleh egois dengan merasa memilikinya,iyakan ?
hujan ini deras, membuatku betah memandangnya, merasakan dinginnya, dan mendengar suaranya, mengembalikan rasa yang dulu sering mampir, sendiri. yaa sendiri lagi, dulu beberapa bulan lalu, cintaku. sebelum kamu, selalu menemaniku saat hujan, dia sadar mengerti tau bahwa aku tidak pernah tenang bila hujan, jadi dia kirimi ku pesan mengingatkanku hujan datang, mendengar ceritaku tentang suara hujan, dan tidak meninggalkanku. itu dulu, beberapa bulan lalu. maaf, dia mengerti. tidak seperti mu.
hujan ini deras, dulu aku punya sahabat, pacar, dan handphone jadi ada yang menemaniku. sekarang juga seperti itu, aku punya sahabat, pacar, dan handphone, hanya bedanya tidak ada yang menemaniku, sekedar menanyakan kabarku. aku sendiri saat aku tidak sendiri
Langganan:
Komentar (Atom)