Jumat, 07 Agustus 2015

mengerti bukan kasihan. ingat bukan janji

angin sungai membelai pipinya. dia memejamkan mata namun senyum seperti biasa tak ada disana.
" aku takut '' ina murung
" kenapa ? " ku usap pelan rambutnya.
" sepertinya kakak kakak ku berantem lagi. " aku menghela napas. " lalu kenapa ? " kataku pelan. " kamu tau kan aku kenapa .... " aku memutus perkataannya dengan memeluknya. " aku tau kamu kenapa, tenang. mereka akan baik baik aja " aku mencoba menenangkannya, dia hanya menghela napas lalu menenggelamkan kepalanya di kepalaku. dia kekasihku. ini bukan cinta pertama kami. tapi rasanya kami akan bertahan lama. ina memiliki masalah dengan ketakutannya, jika aku pikir ini trauma. ina terlalu sering melihat perkelahian sejak kecil. jadi jika dia melihat keluarganya tidak saling tegur atau bercanda dia mulai ketakutan. dia takut mendengar teriakan, melihat orang menangis, dan biru lebam, dia takut perdebatan. bahkan sejak kami menjadi sepasang kekasih dia tidak pernah berkelahi denganku. jika kami berdebat dia akan memilih diam lalu pergi dan aku tidak akan mengejarnya karna dia sudah memberitahuku sejak lama.

*
tiga hari sejak terakhir kali aku bertemu ina. aku sibuk dengan skripsi ku dan dia selalu mengerti. namun siang ini aku dikejutkan dengan kedatangan tara, mantanku. dia mengetuk kaca mobil ku, awalnya hanya sebatas sapa. dan sekarang dia sudah ada di kursi mobilku meminta ku mengantarnya ke pusat perbelanjaan terdekat.

*
" naa.. " teriak cindy sambil menunjuk ke arah etalase. " apaan ? " ina menoleh. disitu dilihatnya arga keluar bersama tara menuju pintu masuk. ina langsung bergegas keluar dan menabrak tara dan arga. arga sangat terkejut. " 3 hari ga ketemu aku, mantanmu yang kamu ajak pergi ? " ina berusaha menjadi lebih tenang. " yee apaan sih " saut tara ketus. ina menatap tara dengan tatapan tajam ingin rasanya ina meneriaki tara andai saja bukan ditempat umum.

*
aku bingung dengan keadaan ini. segera kutarik tangan ina keluar mall dan masuk mobil ku. ina diam saja. ku lajukan mobilku menuju kostan. '' na ku jelasin di kostan ya " tanyaku namun ina hanya membuang pandangan keluar jendela. sesampainya di kostanku ina masuk dulu. namun ternyata saat aku menyusul ina sudah membanting semua barang. aku terkejut, dia memang pernah bercerita kepadaku tentang kebiasaannya menyakiti diri sendiri dan membanting barang yang dilihatnya. hanya saja baru ini aku melihatnya di depan mataku. aku mencoba untuk tidak menyentuhnya namun dia tetap tidak berhenti. " Naaa ... dengerin aku dulu "
" na aku ga bisa nangkap kamu na aku tau janjiku "
" naa tolongg " aku terus saja memohonnya untuk mendengarkanku namun dia mulai menarik rambutnya. dia sangat marah aku tau dia membenci tara. tara musuh ina sejak sma. aku menjadi pacar ina karna awalnya mau menjatuhkan tara.

aku sudah tidak tahan lagi. ku tarik tangan ina membuatnya terkejut lalu memegang kedua bahunya dan mejatuhkannya di tempat tidur. tindakanku membuatnya menegang. kesabaranku habis " kamu gila ya ? punya otak ga sih ? aku bilang dengarin aku dulu !!!! " Bentakku sekaligus kesalahan terbesarku. Ina menatapku dengan tatapan kosong tepat di kedua mataku, badannya tegang dan berkeringat. kami sama sama terdiam. aku yang menyadari kesalahanku dan entah apa yang di pikiran ina. tiba tiba dia mulai menetes kan air mata namun tetap dalam keheningan. dia bangkit dari posisinya dan merapikan baju serta rambutnya. dia hanya tunduk lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar meninggalkanku yang kebingungan. tiba tiba di depan pintu dia menoleh ke arahku dan mengatakan " Maaf, aku keterlaluan " lalu ina pergi.

tiba tiba sekelebat ingatanku lewat. ina pernah mengatakan kepadaku, dia memiliki trauma, dan tidak bisa menghadapi kekerasan. dia punya masalah emosi dan tidak bisa mengendalikan. dia hanya membanting barang barang yang aman dibanting dan tidak pernah benar benar menyakiti tubuhnya sampai terluka. dia bilang dia selalu terlihat tidak bisa mengontrol pikiran walaupun sebenarnya dia marah juga dengan berpikir. dia selalu bilang dia tidak bisa mengamuk hanya karna satu hal. selalu ada hal lain jika dia berubah. dia selalu memintaku menenangkannya dengan memeluknya. bukan dengan tarikan tangan atau cengkraman kuat. kenapa aku tidak mengingatnya.

3 hari sudah kuhabiskan tanpa kabarnya. aku semakin terpuruk. dia adalah wanita pertama yang memberiku peraturan. dan dia wanita pertama yang bisa membuatku mematuhi dan mengingatnya. dia berbeda. dia normal namun berbeda. dan aku benar benar mencintainya.
malam itu kucoba menghubunginya namun tak bisa. jadi aku datang kerumahnya namun dia tidak mau menemuiku. saat aku hendak pergi, kakak ipar ina mendatangiku.
" kamu lagi ada masalah sama ina ?
" iya kak, saya ada salah "
" mau baikkan ? "
" iya kak, makanya saya kesini "
" ina sudah 3 hari ini, setiap jam lima sampai magrib dia keluar. selain itu dia ga ada keluar rumah "
" kemana kak ? "
" sungai dekat rumah "
" oh iya kak makasih " kak riri hanya tersenyum. lalu aku beranjak pulang.

besoknya aku pergi kesana. tepat sekali ina sedang duduk di kursi biasa yang kami duduki. melihatku datang dia tetap diam. namun saat aku duduk di sebelahnya ada kejut di tubuhnya seperti ketakutan. aku sadar apa yang sudah kutanamkan padanya, trauma baru. aku menatap arah mata ina yang bergetar dan rasanya sakit sekali. " na maafin aku " kataku pelan. ina menunduk dan tersenyum, namun dengan mata yang tertutup. " kamu pasti tau aku kenapa " katanya tiba tiba tetap dengan menunduk. " maapin aku na, tolong ini semua salahku na " aku sudah menghadapkan tubuhku padanya. " aku malu " katanya dengan tertawa. tawa yang ragu.

aku benar benar merasa bersalah, lalu aku berlutut di depannya. ku sentuh tangannya perlahan dan kujatuhkan kepalaku di pangkuannya. lalu aku mulai meneteskan air mata. aku pernah begini saat dia menceritakan semua sebab trauma nya. saat aku menangis mengasihi nya. gadis yang selalu berusaha baik bukan karna ingin menjadi orang baik. tapi karna ingin juga di perlakukan baik. yang berusaha mengerti karna ingin juga di mengerti. aku pernah berjanji padanya dalam keadaan seperti ini untuk menjadi orang yang akan mengerti dirinya. aku menangis meminta maaf. hanya kata maaf. dulu ina pernah memintaku untuk tidak berjanji. dia bilang " aku sering berjanji ga, sering juga ku ingkari. aku tau bahkan sadar mudahnya ngingkari janji. kadang juga bilang demi tuhan padahal lagi bohong. rasanya aku ga percaya apa apa ga " dan aku memaksa berjanji di depannya. namun kini aku yang mengingkarinya.

tiba tiba aku merasakan sentuhan di kepalaku. ina mengelus kepalaku dengan perlahan seperti dulu. " aku cuma minta kamu ngerti bukan kasihan. aku cuma minta kamu ingat, bukan janji. kamu tau aku orang paling pemaaf yang pernah kamu kenalkan. ini masalah kecil tapi traumaku besar. jangan lagi ya ga " ucapnya pelan seperti bisikan. aku mengangkat kepalaku dan menatap mata ina, wanitaku. memang belum ada senyum di wajahnya. namun matanya tidak bergetar lagi. dia memaafkanku. segera aku beranjak dari lututku dan memeluknya. memeluknya berusaha menjadi nyaman untuknya. aku tidak mengatakan apapun lagi. aku hanya berjanji pada diriku sendiri, aku harus menjaganya. mungkin trauma dan emosinya susah berubah. tapi aku yang harus menjaganya.